BERHENTI DI LUBUK RAMAN
Batik Khaman mengubah desa yang dulu hanya menjadi tempat orang melintas menjadi tujuan yang sengaja didatangi.
Gambar 1. Etika Oktasari saat memaparkan mengenai Batik Khaman kepada awak media (10/07/2026)Muara Enim, Sriwijaya News Online—Rumah Kreatif Boek Khaman pagi itu dipenuhi pengunjung. Di balik meja-meja kayu, beberapa perempuan sibuk menggoreskan canting di atas bentangan kain putih. Aroma malam yang dipanaskan memenuhi ruangan, sementara suara percakapan bercampur dengan penjelasan mengenai makna setiap motif yang lahir dari tangan para perajin.
Sebagian tamu memperhatikan proses membatik dari dekat. Sebagian lainnya mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan setiap tahapan. Di antara mereka, Etika Oktasari sesekali menghentikan pekerjaannya ketika ada yang bertanya mengenai motif yang sedang ia gambar.
"Ini buah khaman," ujarnya sambil menunjuk bagian tengah kain.
Bagi masyarakat Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, buah khaman bukan sekadar motif. Ia adalah penanda sebuah kampung.
Sulit membayangkan rumah yang ramai dikunjungi itu berdiri di desa yang beberapa tahun lalu hanya dikenal sebagai tempat orang melintas.
Gambar 2. Kades Henkri Triansyah, A.Md. bersama Camat Deny Eka Saputra, S.P. saat memberikan pernyataannya"Desa kami merupakan desa perlintasan. Tidak ada yang menonjol di desa kami ini," kenang Kepala Desa Lubuk Raman, Henkri Triansyah.
Kegelisahan itulah yang menjadi titik awal perubahan.
Sebagai kepala desa, Henkri tidak sedang mencari bangunan paling megah atau gerbang paling tinggi untuk memperkenalkan kampungnya. Yang ia cari jauh lebih sederhana, tetapi juga jauh lebih sulit: sesuatu yang membuat orang mengingat nama Lubuk Raman.
Pilihan itu jatuh pada batik.
Gambar 3. Berbagai macam Batik Khaman yang ditampilkan di Galeri Rumah Kreatif Boek KhamanMenurutnya, batik bukan sekadar kain bermotif. Di atas selembar kain, sebuah desa dapat menyimpan sejarah, mengenalkan kekayaan alam, sekaligus memperlihatkan jati dirinya kepada orang lain.
Gagasan itu mulai diwujudkan pada 2021 bersama masyarakat. Nama Boek Khaman dipilih dari buah khaman atau gandaria, tanaman yang dahulu banyak tumbuh di wilayah Lubuk Raman.
Namun, cerita yang dibawa Batik Boek Khaman tidak berhenti pada nama.
Gambar 4. Batik Khaman yang sedang dalam proses produksiMotif buah khaman menjadi identitas utama. Motif kopi menggambarkan sumber penghidupan masyarakat. Motif bambu merepresentasikan potensi lokal yang kini berkembang menjadi kerajinan. Pada bagian tumpal terdapat simbol Empat Gandaria sebagai penghormatan kepada para pendiri desa, sementara kapak beliung menjadi pengingat perjuangan para leluhur.
Setiap motif lahir bukan untuk memperindah kain semata.
Setiap motif membawa cerita tentang Lubuk Raman.
Perjalanan itu tidak mudah.
Gambar 5. Proses produksi Batik Khaman oleh pengrajin batik Desa Lubuk RamanBatik bukan tradisi yang telah lama tumbuh di desa tersebut. Masyarakat harus belajar dari awal, mulai mengenal canting, memahami penggunaan malam, hingga mempelajari teknik pewarnaan.
Tantangan lain datang dari anggapan bahwa batik adalah produk yang mulai ditinggalkan.
"Banyak yang menganggap batik itu kuno. Karena itu kami terus berinovasi agar batik tetap diminati," kata Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari.
Rumah Kreatif Boek Khaman kemudian mengembangkan batik ekspresionis, batik lukis, hingga memadukan teknik jumputan tanpa meninggalkan pakem membatik.
Bagi Etika, mempertahankan tradisi tidak berarti menolak perubahan.
Justru melalui inovasi itulah batik dapat terus hidup.
Perlahan, Rumah Kreatif Boek Khaman berkembang menjadi ruang pemberdayaan masyarakat. Kini terdapat 49 pengrajin, dengan 10 orang di antaranya menjadi pembatik aktif. Selebihnya mengembangkan kerajinan bambu, Kelompok Wanita Tani, serta berbagai usaha pendukung yang saling menguatkan.
Rumah yang semula hanya menjadi tempat berkumpul warga kini berubah menjadi ruang belajar, ruang berkarya, sekaligus ruang tumbuh bagi masyarakat.
Perjalanan masyarakat Lubuk Raman kemudian mendapat penguatan melalui Program Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Zona 4 PEP Limau Field.
Gambar 6. Galeri Rumah Kreatif Boek KhamanPendampingan dilakukan setelah melihat potensi yang dimiliki Batik Boek Khaman, bukan hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai peluang peningkatan ekonomi masyarakat.
Manager Relations Pertamina Hulu Rokan Zona 4, Frans Alexander Hukom, mengatakan pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan kapasitas kelompok, penguatan kelembagaan, hingga memperluas akses pemasaran. Penggunaan pewarna alami dan pengelolaan limbah batik yang lebih ramah lingkungan juga menjadi bagian dari pengembangan tersebut.
"Harapan kami tentunya program ini memberikan dampak positif bagi masyarakat," ujarnya.
Bagi Frans, keberhasilan pendampingan bukan hanya diukur dari banyaknya batik yang terjual, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk terus berkembang secara mandiri. Karena itu, ia berharap suatu hari nanti Batik Boek Khaman mampu menembus pasar internasional.
Harapan itu mulai menemukan jalannya.
Batik Boek Khaman kini rutin mengikuti berbagai pameran tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Pemasaran tidak lagi bergantung pada penjualan langsung, tetapi juga memanfaatkan media digital sehingga jangkauan pasar semakin luas.
Perubahan tersebut turut mengangkat nama Desa Lubuk Raman.
Desa ini berhasil meraih Juara I Lomba Desa tingkat Kecamatan Rambang Niru, Juara I tingkat Kabupaten Muara Enim, Juara I tingkat Provinsi Sumatera Selatan, hingga meraih Juara III Lomba Desa Tingkat Nasional Regional I.
Gambar 8. Camat Rambang Niru, Bpk. Deny Eka Saputra, S.P. bersama Kades Lubuk Raman Henkri Triansyah.Camat Rambang Niru, Deny Eka Saputra, mengapresiasi kolaborasi masyarakat dan Pertamina dalam mengembangkan potensi lokal desa. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat akan tumbuh ketika masyarakat sendiri menjadi pelaku utamanya.
Menjelang siang, pengunjung mulai meninggalkan Rumah Kreatif Boek Khaman.
Sebagian membawa pulang selembar batik.
Sebagian lagi membawa cerita tentang sebuah desa yang sebelumnya tidak mereka kenal.
Barangkali itulah yang selama ini dicari masyarakat Lubuk Raman.
Bukan sekadar menghasilkan kain.
Bukan sekadar mengejar penghargaan.
Melainkan membuat orang berhenti, mengenal, lalu mengingat nama desa mereka.
Beberapa tahun lalu, Lubuk Raman hanyalah sebuah desa yang dilewati.
Hari ini, orang datang dengan sengaja.
Mereka datang untuk melihat bagaimana selembar batik mampu menyimpan sejarah, menggerakkan masyarakat, dan memperkenalkan sebuah kampung yang dulu nyaris tak memiliki alasan untuk disinggahi.
Di setiap helai Batik Boek Khaman, nama Lubuk Raman ikut bepergian. Dan dari sanalah, sebuah desa akhirnya menemukan identitasnya. (ALV/SN)